

Sejak 2007, total pinjaman yang disalurkan PT Carrefour Indonesia (CI) melalui program micro finance kepada UMKM sebesar Rp 5,4 miliar.
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam pencapaian ekonomi nasional, sekaligus mengatasi persoalan kemiskinan. Oleh karena itu, pemberdayaan UMKM harus lebih digiatkan, untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan rakyat.
Penguatan UMKM memerlukan dukungan dari perusahaan swasta nasional agar bisa membantu pelaku UMKM yang selama ini belum terjangkau Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Perusahaan bekerjasama dengan lembaga keuangan mikro memberikan pinjaman dan juga pembinaan kepada pengusaha UMKM agar mereka bisa meningkatkan kualitas dan kapasitasnya.
Selama ini, kendala yang selalu menghalangi perkembangan UMKM adalah permodalan. Kalangan UMKM kerap mengalami kesulitan jika mengajukan pinjaman ke bank akibat ketatnya persyaratan, sehingga UMKM dianggap tidak bankable. Dengan adanya lembaga keuangan mikro (micro finance) yang mengusung konsep pinjaman tanpa agunan, kendala itu bisa teratasi. “Persyaratannya ringan dan bunganya rendah sehingga membantu pengusaha mikro terlepas dari jeratan renternir,” kata pengurus PT Bina Artha, Bona Silalahi.
Kalangan pelaku usaha mikro merasa terbantukan dengan adanya program pinjaman tanpa agunan. Kamsinah (58 tahun), penjual gorengan di Pasar Sinar, Tanjung Priok mengaku usaha semakin berkembang setelah mendapatkan fasilitas pinjaman tanpa agunan dari PT Carrefour Indonesia.
Kamsinah sudah dua kali memperoleh pinjaman dari Carrefour sebesar Rp 1,5 juta. “Persyaratannya ringan dan prosesnya cepat sekitar dua minggu pinjaman cair. Pada waktu mengajukan pinjaman disurvei dulu dan penataran selama seminggu,” ujarnya.
Sukarni (55 tahun), pedagang mie ayam di Pasar Embriyo, Kramat Jati juga telah dua kali memperoleh pinjaman dari Carrefour. Sukarni yang telah berjualan mie ayam sejak enam tahun lalu pertama kali memperoleh pinjaman sebesar Rp 2 juta yang dimanfaatkan untuk mengganti gerobak yang sudah rusak. Pinjaman kedua sebesar Rp 3 juta untuk biaya sekolah.
“Jangka waktu pinjaman selama enam bulan dan angsuran per minggu sebesar Rp 87.500. Proses pencairan pinjaman juga cepat sekitar seminggu,” katanya.
Lain lagi cerita Sirop (47 tahun), pedagang sayur dan buah-buahan di Pasar Sinar. Menurut dia, petugas dari Carrefour sangat proaktif datang ke pasar menawarkan pinjaman kepada para pedagang. Dia mengaku mengajukan pinjaman Rp 3 juta dan realisasinya sebesar Rp 2 juta.
Sejak 2007 total pinjaman yang disalurkan PT Carrefour Indoensia (CI) melalui program micro finance kepada UMKM sebesar Rp 5,4 miliar. Bekerjasama dengan Bina Artha, PT CI mentargetkan bisa menggandeng 3.100 pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Menurut Bona, Carrefour sangat concern terhadap pengembangan UMKM, tidak hanya melalui pemberian pinjaman tanpa agunan tapi juga pembinaan antara lain berupa pelatihan-pelatihan. Pelatihan seperti bagaimana menjaga kebersihan memang sangat dibutuhkan oleh pengusaha mikr
“Yang paling penting adalah pembinaan kepada mereka agar semakin maju, bukan hanya dari sisi usaha tapi juga kapasitasnya sebagai pengusaha, itulah program kami bersama Carrefour,” katanya.
Carrefour tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan dana untuk pengembangan kapasitas dan kualitas saja. Carrefour membuat konsep program pengembangan UMKM dengan membagi tiga kategori yaitu untuk non pemasok, berpotensi menjadi pemasok, dan pemasok. Bagi non pemasok, yang dilakukan Carrefour adalah program Keuangan Mikro, bagi kriteria yang berpotensi menjadi pemasok fokus programnya adalah Produk Berbasis Komunitas, dan bagi pemasok yang sudah bergabung programnya adalah Sentra UMKM. ”Ketiga hal tadi diimplementasikan ke dalam 4 inisiatif, program peningkatan kualitas, dukungan promosi, akses pasar dan eveluasi berkesinambungan.