Bunda mengerti, di tengah keriaan dan semangat membesarkan anak, ada saat di mana kita merasa jenuh dan kelelahan. Saat-saat itu pula emosi rentan terpancing dan nggak jarang menimbulkan pertengkaran dengan suami. Nggak jadi masalah kalau hanya ‘letupan-letupan’ kecil, tapi gimana kalau ini sudah menjadi masalah serius yang akan berefek pada anak Anda.

Iya, pertengkaran orang tua akan sangat memengaruhi tumbuh kembang anak, khususnya secara psikologis. Penelitian terbaru menunjukkan perkembangan emosional dan mental anak sangat dipengaruhi oleh hubungan kedua orang tuanya. Anak bisa jadi tertekan dan mengalami depresi akut ketika orang tua kerap bertengkar di depannya. Dan salah jika Anda berpikir, “Ah, masih kecil, dia nggak mengerti kalau kita berantem.” Asal tahu saja, dari segi psikologis, bayi kurang dari enam bulan sudah mulai merasa jika adanya ketidak nyamanan di sekelilingnya dan janin usia empat bulan pun sudah memiliki keterikatan batin dengan sang Ibu, jadi jika si Ibu merasa tertekan, marah atau sedih, bayi di kandungan pun bisa merasakan hal yang sama. Mungkin yang membuat Anda merasa anak tidak mengerti akan pertengkaran orang tua hanyalah karena mereka belum bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

credits: getty

Banyak orang yang nggak ngeh soal dampak konflik orang tua terhadap anak. Percayalah, meski itu hanya ‘perang dingin’ anak bisa merasakannya. Apalagi balita mulai dari setahun. Dan jika anak sering melihat pertengkaran antara Anda dan suami, mereka bisa meragukan kebahagiaan keluarga Anda dan parahnya mereka akan merasa trauma berada di lingkuan rumah dan akan lebih senang berada di rumah orang lain—misalnya rumah nenek kakek.

Penelitan pun menunjukkan, efek lain anak sering menyaksikan orangtua bertengkar adalah anak dapat menjadi individu minder dan tidak percaya diri atau sebaliknya, menjadi individu yang temperamental. Sebab, mendengar orangtua yang disayanginya bertengkar bisa melukai hati anak. Dia pun kerap kebingungan menempatkan posisi di mana harus berada, membela Ayah atau Ibu?

Jadi, jika memang terpaksa beradu mulut di depan anak-anak, usahakan untuk tetap menjaga kesopanan tanpa kekerasan. Berikut beberapa tip apabila pasangan terpaksa bertengkar di hadapan anak-anak:

1. Jangan melibatkan kekerasan fisik
Pasangan tidak boleh saling memukul atau melempar barang-barang. Jangan membuat anak-anak Anda semakin takut dengan melakukan hal-hal yang melanggar serta membanting pintu.

2. Anak-anak dapat merasakan perang dingin
Jangan berpikir anak-anak tidak dapat merasakan perang dingin orang tuanya yang bertengkar dan saling ‘diam’.

3. Jangan meminta anak-anak memilih
Saat bertengkar dengan pasangan, jangan membuat anak-anak bingung dengan menyuruh melaporkan kelakuan pasangan atau memilih salah satu diantara orangtuanya.

4. Lindungi anak-anak dari informasi tertentu
Jangan mengungkapkan informasi selama pertengkaran mengenai keuangan, kehidupan seks, kebiasaan Anda berdua, kekhawatiran memgenai pekerjaan dan sebagainya. Mereka akan terpengaruh dan turut cemas

6. Cari solusi segera
Terkadang Anda dan pasangan tak dapat menghindari bertengkar di hadapan anak. Cobalah untuk melakukannya hanya jika kalian berdua dapat menyelesaikan masalah tersebut. Ini mengajarkan anak-anak bahwa bertengkar juga bisa mendatangkan solusi.

Lebih penting lagi, kelola pertengkaran Anda dengan baik. Meski nggak mudah, coba sesekali memerlihatkan kasih sayang (bukan kebencian yang menggebu). Dengan begini Anda bisa menjauhkan anak dari efek buruk konflik orang tua dan juga mendidiknya jadi pribadi yang mampu menyelesaikan masalah dengan baik.