Ada joke soal pernikahan yang mungkin Anda juga tahu. “Sebelum nikah, puas-puasin manja sama suami, minta ini-itu dan mumpung dikasih. Soalnya pas udah nikah, jangan harap!” Intinya sih, kehidupan setelah pernikahan itu seolah ‘enggak’ banget. Nggak ada lagi kata-kata manis atau bermanja-manja sama suami, hilang sudah kejutan-kejutan kecil yang dulu—pas pacaran—selalu bikin hati berbunga. Benar begitu? Hmm, kayaknya banyak yang—dalam hati—bilang ‘iya’ nih. Well, Bunda sih sadar dan mencoba realistis bahwa,
1. kita (suami dan istri) nggak lagi tinggal terpisah. Jadi segala macam, dari ujung rambut hingga ujung kaki sudah sama-sama tahu.
2. Tujuh hari dalam seminggu kita selalu ketemu. Banyak yang menggunakan istilah 4L, ‘Lu lagi, lu lagi’. Kangen? Hmm, rasanya sudah lupa ya rasanya kangen.
3. Tiap kali ngobrol, pembicaraan nggak jauh-jauh soal anak. Anak begini, anak begitu. Trus kapan dong soal ‘kita’?
4. Lupakan waktu berduaan. Ninggalin anak cuma buat nonton bioskop berdua kok hati ini bersalah banget ya?
Feel the same way too? Well, itu kayaknya hanya sebagian kecil realitas yang kita hadapi ketika berkeluarga, masih ada tetek bengek lain yang panjang kalau dijabarkan. Tapi apa iya, harus seperti ini? Karena kalau dipikir dan renungkan lagi, rasanya nggak ada satu alasan negatif yang membuat kita—khususnya Bunda sih—dulu memutuskan untuk menikah. Iya dong! Coba deh tanya lagi ke diri sendiri, kenapa kita dulu menikah? Apa alasan kita mau hidup bersama dia? Nah, kalau dirunut lagi ke belakang, konsekuensi menikah di atas kayaknya gak mutlak harus kita jalani ya. Maksudnya, kita bisa kok menjadi pasangan atau keluarga yang nggak tipikal. And yes, menghidupkan kembali hubungan dengan suami itu dibutuhkan kerja keras. Setidaknya kerja keras dari kita dulu. Dan FYI, happy parent berujung ke happy family, lho. Lalu musti gimana dong? Nih beberapa hal yang Bunda terapkan supaya terhindar dari kejenuhan berumah tangga dan menjaga kehangatan keluarga.
- Komunikasi!
Klise banget ya soal komunikasi ini, dan rasanya kita sudah berkomunikasi deh sama suami. Tiap hari malah, apa itu kurang? Bukan kurang sih, mungkin masih belum maksimal saja. Iya, kita memang komunikasi sama suami, tapi coba deh pikir lagi, apa komunikasi antara kita sudah tepat. Artinya, kita mau saling mendengar, nggak cuma ‘hear’ tapi juga ‘listen’. Nggak cuma asal dengar tapi juga mencermati. Jadi, kalau suami cerita soal kerjaannya, jangan hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan sambil nganggu-ngangguk tanpa tahu apa yang sebenarnya dia ceritakan. Atau sebaliknya, si suami sibuk otak-atik kendaraan dan cuma ‘iya-iya’ saja saat kita cerita.
- Don’t sweat the small stuff.
Kadang suka kesel ya, sanking seringnya ngebilangin suami untuk selalu menaruh kembali handuk yang sudah dipakai ke jemuran. Kesel? Pasti, tapi itu kan hal kecil dan nggak perlu jadi alasan untuk perang dingin cuma gara-gara handuk. Biarkan masalah kecil tetap kecil, dan bersyukur saja, tandanya kita nggak punya masalah besar.
- Waktu berdua
Sudah lama nggak berduaan, jadi bingung deh apa ya yang harus diobrolin ketika berduaan. Ya, pasti soal anak lagi dan lagi. Hayo, ini harus Anda coba. Ketika ada waktu berdua, usahakan nggak selalu menyinggung soal anak. Kita kan juga butuh teman cerita dan berbagi, jadi inilah saatnya (nggak melulu tentang anak). Nggak perlu merasa bersalah juga kalau kita ingin pergi hanya berdua suami. Tujuannya kan untuk menghangatkan hubungan, supaya bisa happy parent dan happy family.
- Don’t take it for granted
Terlalu nyaman dengan hubungan kita dan suami kadang kita melupakan hal kecil yang sebenarnya esensial. Contohnya, mentang-mentang sudah nikah, lupa deh kalau dandan nggak cuma mau pergi saja tapi juga buat suami. Alasannya, “aaah, udah laku ini.” Padahal ya, suami pengen juga lho istrinya dandan cantik atau—ehm—seksi ketika bersamanya. Dan kita pastinya juga mau dong dapat perlakuan manis dari suami kayak waktu pacaran dulu.
- Tetap orang yang sama
Nggak dipungkiri, setelah menikah banyak hal yang berubah. Tanpa disadari kita pun ikut berubah. Hobi yang dulu kita tekuni pelan-pelan kita tinggalkan lantaran mengurus anak. Topik obrolan dengan suami makin nggak nyambung dan merasa kita punya dunia masing-masing. Banyak yang berubah setelah menikan itu wajar, tapi jangan sampai itu mengubah diri kita. Just remember, deep inside, we’re still same person.
Nah, ini dari Bunda, yang lain ada masukan?





No comments yet. You should be kind and add one!
By submitting a comment you grant Bunda Carrefour a perpetual license to reproduce your words and name/web site in attribution. Inappropriate and irrelevant comments will be removed at an admin’s discretion. Your email is used for verification purposes only, it will never be shared.